Thursday, 22 December 2011

Para Priyayi - Umar Kayam



IDENTITAS BUKU
     Judul buku          : Para Priyayi
     Penulis                : Umar Kayam
     Penerbit              : PT Pustaka Utama Grafiti
     Tahun terbit         : 1992
     Tebal                  :  308 Halaman


SINOPSIS DAN ANALISIS
Melihat sekilas, buku ini termasuk 'berat' untuk ukuran Mahasiswa. Sampulnya yang coklat dan menampilkan foto beberapa priyayi jawa membuat buku ini sangat tidak menarik minat anak muda jaman sekarang. Tapi berhubung saya suka membaca apapun, akhirnya buku ini saya 'lahap' juga. Dan woyla.........Don't judge book by it's cover seakan menohok diri saya begitu saya mulai beberapa bab awal dari buku ini. Almarhum Prof. Dr. Umar Kayam benar - benar menunjukkan kualitas beliau sebagai sosiolog, novelis, cerpenis, budayawan dalam buku ini. Renyah, mudah di cerna dan tata cara penuturan orang pertama yang benar-benar baru bagi saya.

Cara bertutur dalam novel ini terbilang unik, Umar kayam membagi bab-bab dalam novelnya sesuai dengan nama tokoh-tokohnya dan bercerita sebagai orang pertama di tiap bab nya. Tiap bab menceritakan tokoh utama dengan ringan, diplomatis, sopan, berkesan basa-basi, tapi barmakna sangat dalam. Antara bab satu dengan yang lain tetap menjadi bagian yang utuh dan menjadi satu kesatuan cerita walau tetap bisa di baca terpisah.


Cerita para priyayi dimulai dari sebuah tempat bernama Wanagalih, kota fiksi yang merupakan tempat pertemuan Bengawan Solo dan Kali Mediun. Agak aneh juga sih kenapa pak Umar Kayam memakai kota fiksi sebagai pusat ceritanya sedang semua setting tempat dan waktu lain bukan rekaan. Setting waktu berjalan di 3 jaman, mulai dari jaman pendudukan Belanda, Jepang dan Indonesia merdeka pada akhir 60an. Jaman-jaman yang penuh konflik dan sangat berbeda satu dengan lain nya, hingga menimbulkan perbenturan budaya antara tradisi kesultanan Jawa kuno dan pengaruh budaya serta pendidikan barat yang membuat meluasnya definisi priyayi dari sekedar keturunan langsung atau tidak langsung (saudara jauh) dari keluarga kesultanan hingga meluas munculnya priyayi-priyayi baru dari kalangan guru, dokter, dan pegawai-pegawai kesultanan/keresidenan/gupermen.

Lalu di mulailah perjalanan Soedarsono yang semula adalah putra dari seorang petani biasa Mas Atmokasan membangun keluarga Priyayi. Dengan bantuan majikan orang tua nya Ndoro Seten, Soedarsono berhasil memperoleh beslit ( atau SK di jaman sekarang ) guru bantu di sebuah sekolah desa di ploso. Sedikit demi sedikit, Soedarsono belajar menjadi seorang priyayi Jawa,  seorang Priyagung, Priyayi agung. Yang kemudian membuat dirinya mengganti nama nya menjadi Sastro Darsono karena di rasa nama Sudarsono tak mampu lagi menaungi kepriyayian keluarga besar nya.

Keluarga Sastro Darsono perlahan berhasil membangun dinasti priyayi mereka sendiri. Kelahiran 3 anak mereka Noegroho, Hardoyo dan Sumini menambah lengkap keluarga priyayi mereka. Semua anak mereka pun sukses megikuti jejak Sastro Darsono menjadi seorang priyayi. Noegroho yang menjadi Guru HIS kemudian banting setir ikut PETA pada jaman pendudukan Jepang, dan kemudian pindah menjadi perwira TNI pada jaman kemerdekaan. Hardoyo, menjadi seorang abdi Mangkunegaran dan menantunya Harjono (suami Soemini) seorang Asisten Wedana.

Seperti hal nya para priyayi lain nya, Sastro Darsono pun perduli pada keluarga besar nya. Seperti dikisahkan pada suatu waktu mereka mengambil dan merawat keponakan-keponakan mereka yang tidak mampu untuk di sekolahkan dan 'ngenger' di rumah mereka. Misalnya Soenandar, seorang keponakan jauh mereka yang di rawat dan di beri pendidikan yang sama dengan anak-anak Sastro sendiri meski pada akhirnya tidak berguna karena Soenandar lebih memilih jalan bergabung dengan gerombolan rampok. Tapi siapa sangka, dari Soenandar lah lahir seorang anak haram yang kemudian menjadi penyelamat keluarga besar Sastro Darsono. Wage atau kemudian lebih di kenal dengan Lantip, cucu Sastro Darsono atau anak Soenandar yang lahir di luar nikah ternyata berhasil menjungkir balikkan kisah hidup dinasti priyayi Sastro Darsono. Lantip inilah yang pada akhirnya berhasil mewarisi jiwa priyayi Eyang kakung Sastro Darsono.

Lantip yang sejak kecil ikut eyang kakung Sastro Darsono di karenakan matinya Soenandar dalam sebuah peristiwa perampokan berubah menjadi dewa penyelamat bagi keluarga besar Eyang kakung Sastro Darsono.Cucu eyang Sastro Darsono lain nya kemudian hidup sebagai anak jaman mereka. Menjadi anak kelas menengah birokrat yang manja seperti Marie yang kemudian di ketahui hamil di luar nikah,  Harimurti putra Hardoyo yang terlibat di Lekra dan Gestapu. Sedang Lantip sendiri, dia lah yang kemudian menunjukkan makna "priyayi" dan "kepriyayian" itu.

Pada akhir novel ini di ceritakan Eyang kakung Sastro Darsono akhirnya meninggal dunia, dan setelah melalu serangkaian dialong tentang siapa yang akan memberikan pidato perpisahan akhirnya di tunjuklah Lantip yang akan memberikan pidato perpisahan.

"Calon yang lebih pantas dan paling besar jasanya buat keluarga besar kita. Dialah orang yang paling ikhlas,tulus, dan tanpa pamrih berbakti kepada kita semua.Dialah priyayi yang sesungguhnya lebih daripada kita semua. Dia adalah kakang Lantip." Jelas Harimurti meyakinkan yang lain saat menunjuk Lantip sebagai pembaca pidato selamat jalan di pemakaman Eyang kakung Sastro Darsono.

Dialog lain yang mengajak kita sedikit merenung adalah dialog Lantip dengan pakde nya sesaat setelah selesai pemakaman.

“Kalau menurut kamu, apa arti kata priyayi itu, Tip?”
“Sesungguhnya saya tidak pernah tahu, Pakde. Kata itu tidak terlalu penting bagi saya.”


Lewat novel ini Umar Kayam seakan ingin menyampakan bahwa "priyayi" hanyalah sebuah retorika belaka. Inti dari priyayi sesungguhnya adalah sikap hidup. Sikap hidup terpuji yang bisa di lakukan oleh siapa saja. Merekalah Priyayi sesungguhnya.





No comments:

Post a Comment

Post a Comment