Sunday, 7 February 2016

Jodoh (?)



Assalamualaikum.
Apa kabar semuanya?

Alhamdulillah setelah sekian lama ngga ngeblog, akhirnya bisa kembali posting lagi. Tulisan lama sih sebenernya, hasil galauan di akhir tahun 2014 yang selama ini cuma disimpen di draft dan nggak pede tiap mau posting. Tapi gara-gara minggu ini terserang virus-merah-jambu (lagi-lagi), akhirnya saya baca-baca lagi dan ternyata isinya cukup menghibur setidaknya untuk saya sendiri.

***

Di usia dua puluhan, ngomongin jodoh ternyata bukan lagi hal yang tabu ya? Apalagi di kalangan perempuan yang masih setuju bahwa usia nikah mereka lebih muda daripada usia nikah laki-laki. Atau buat perempuan yang ingin menyegerakan menikah. Topik seputar jodoh dan pernikahan adalah hal yang selalu menarik untuk dibicarakan.

Di usia seperti ini, memang udah bukan waktunya pacaran ala anak sekolahan yang masih samar-samar arahnya mau kemana. Setiap keputusan yang diambil seharusnya sudah dipikirkan juga jangka panjangnya. Mungkin karena itu juga, teman-teman saya justru banyak yang single di usia dua puluhan. Ada yang memang ingin fokus kuliah atau berkarir dulu. Ada juga yang memang nggak mau pacaran main-main, maunya diseriusin dan langsung nikah, tapi belum nemu orang yang tepat, yang ini saya banget.

Tapi sekeras-kerasnya perempuan menahan diri dan mematuhi prinsip-prinsipnya, semandiri dan sekuat apapun, pasti ada saatnya dia rindu pada sosok yang bisa melindungi, menyayangi, dan menjaganya. Kalau rasa rindu itu udah datang, bawaannya pengen cepet-cepet ketemu jodoh gitu kan? Apalagi buat mereka yang ingin menikah muda, waktu penantiannya pasti kerasa banget. Dijamin ngga bakal sanggup deh menanti 12 tahun kaya mbak Cinta AADC hehe.


Seringnya bertanya-tanya, kapan ya orang yang tepat itu datang? Udah berusaha dan berdoa, bahkan memperbaiki diri, tapi kok belum dipertemukan sama Allah?
Sehari-hari bawaannya nggak sabar. Penasaran, siapa sih sebenarnya yang namanya tertulis di Lauh Mahfuz dan disandingkan dengan namaku? Kemudian, karena nggak sabaran, jadi kesel. Dijodohin sama yang ini, nggak pas di hati. Dideketin sama yang itu, eh PHP doang. Giliran udah ada yang serius dan cocok, ada aja alasan yang ngga memungkinkan buat menikah. KZL kan ya?

Yah jujur saja, hal-hal itu based on true story dalam cerita pencarian cinta sejati si empunya blog. Haha. Tapi tunggu, di tengah kegundahan hati menanti seorang yang tepat, ada saja hiburan yang dihadiahkan oleh Allah dengan cara-cara yang indah, yang saat ini ingin saya bagikan ke teman-teman senasib seperjuangan.

Alkisah, saya memiliki teman masa kecil, sebut saja Bunga. Mbak Bunga ini sepantaran dengan saya, dan baru saja menikah. Ketika mendengar kabar pernikahannya, saya bahagia sekaligus iri. Banyak memang, teman seusia saya yang sudah menemukan jodohnya. Hal itulah yang kadang bikin saya penasaran kapan giliran saya datang.

Kembali pada si Bunga, ada kisah mengesankan di balik pernikahannya.

Setahun lalu (2013), saya mendapat kabar bahwa Bunga bertunangan dengan laki-laki yang sudah lama jadi pacarnya. Di sini, sepasang pria-wanita yang sudah lamaran/tunangan, bisa dipastikan 90% akan menikah. Persentase ngawur sih, tapi begitulah biasanya. Ketika dua orang sudah dalam proses lamaran, artinya kan sudah bukan main-main lagi, kan? Yah walaupun memang masih ada 10% untuk case-case yang akhirnya batal. 

Apakah kemudian Bunga menikah dengan tunangannya? Ternyata Allah menggariskan lain.

Dia justru menikah dengan seseorang yang baru dikenalnya selama dua bulan. Iya, baru kenal dua bulan! Mungkin bagi sebagian akhi-ukhti yang memang memilih ber-ta’aruf, hal ini terkesan biasa saja, tapi Bunga bukan perempuan yang memilih jalan tersebut. Bagi perempuan seperti Bunga, saya kira dua bulan adalah waktu yang cukup singkat untuk berkenalan.

Tapi, itu lah jodoh. Tak peduli waktu.

Dari kisah si Bunga, saya dapat mengambil pelajaran. Bahwa jodoh itu tidak bisa dikira-kira. Bisa jadi tiba-tiba dia datang tanpa di duga. Jodoh juga bukan perkara kuantitas waktu menjalin hubungan dengan seseorang. Yang sekarang punya pasangan, belum tentu akan menikah duluan dibanding yang single unyu macam saya. Walaupun sekarang lagi musim ya, pacaran lama kemudian menikah. Hahaha *tawa sinis*.

Jodoh juga bukan perkara usia. Tak ada yang bisa menjamin seseorang yang lebih tua akan lebih dulu menikah daripada juniornya.

Menurut saya, jodoh lebih ke arah kesiapan. Allah akan menghadiahkan satu sama lain jika memang keduanya sudah sama-sama siap.

Terkadang saya heran dengan diri saya sendiri. Ingin cepat menikah, tapi ketika suatu kali hati kecil bertanya “apakah kalau ada yang ngelamar sekarang, kamu siap?” eh saya masih ragu-ragu juga. Karena menikah itu nggak sesimpel kita bikinin kopi untuk suami setiap pagi. Bercita-cita ingin masakin suami setiap hari, tapi ngiris bawang aja masih kesusahan. Harus siap jadi manajer keuangan, tapi lihat baju-baju lucu nan mahal bawaannya pengen beli. Harus punya jiwa keibuan, tapi gendong anak tetangga aja masih ngga berani, takut ngejatuhin, takut bikin nangis. Belum lagi keinginan nyelesaiin kuliah dulu, kerja dulu. Macem-macem lah pokoknya.

Karena beraneka ketidaksiapan itu lah, barangkali Allah masih belum yakin menitipkan sesosok imam tampan untuk saya bahagiakan.

Karena itu, saudariku, yang mungkin saat ini sama seperti saya. Sedang terburu-buru, mulai lelah menunggu dan penasaran. Percayalah bahwa Allah akan mengirim imam yang tepat di waktu dan tempat yang tepat. Jika sekarang bukan waktunya, mungkin sekarang Dia masih memberikan kita waktu untuk berbenah.

Pasti pernah kan, memohon untuk dijodohkan dengan lelaki yang baik?

Sementara lelaki yang baik adalah untuk perempuan yang baik dan begitulah sebaliknya. Dan mungkin, saat ini kadar baik kita belum bisa mengimbangi kadar baik sang imam. Maka Allah memutuskan untuk menunda dulu pertemuan sakral tersebut. Memberi waktu pada kita untuk berbenah dan mengembangkan diri terlebih dulu; dalam hal agama, dalam hal akademik, dalam hal sosial, dan lain-lain. Karena menikah itu nggak cuma mengucap ijab-qabul, lalu selesai. Menikah juga butuh ilmu agar nantinya kita bisa mengembangkan generasi yang lebih baik.

Duh Sella, belum juga lulus kuliah. TA tuh urusin, nikah aja omongannya. Pakai ditambahin generasi-generasian pula. Umur juga baru segitu.

Ah, ngomongin jodoh dan pernikahan kan ngga harus pas udah lulus kuliah. Bukan maksud ngebet nikah juga (eh tapi kalau dikasih cepet ya bersyukur), tapi memang topik ini selalu menarik untuk dibahas, bahkan menarik untuk dipelajari. Ya kan?


Begitulah catatan hati kali ini, semoga bisa menjadi obat bagi mereka yang mulai letih menanti. Semoga bermanfaat khususnya untuk diri saya sendiri agar dapat menjadi pengingat untuk saya yang sering nggak sabaran ingin mempercepat waktu agar segera bertemu imam masa depan. Semangat menanti dan memperbaiki diri, Sella!

Wassalamualaikum.

1 comment:

  1. Tapi, itu lah jodoh. Tak peduli waktu.
    InshaAllah.

    ReplyDelete